muhamad gunawan

Just another WordPress.com site

Tugas Fisika 1

MANAJEMEN PENINGKATAN MUTUPERGURUAN TINGGI

Sudirman Mohammad Chon

Abstrak

Sukses merupakan pembangunan suatu bangsa akan sangat ditentukan antara lain oleh berhasil tidaknya sistem pendidikan nasional dan manajemen serta anggaran pendidikan yang berarti, ini akan berdampak pada hasil (lulusan) perguruan tinggi. Lulusan yang berkualitas tinggi akan menjadi insan pemikir (thinker) di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan berbagai bidang kesejahteraan masyarakat sebagai penentu masa depan bangsa dan negara indonesia. Untuk menghasilkan lulusan yang bermutu, perguruan tinggiy tidak terlepas dari manajemen yang bermutu pula, karena itu dapat dipastikan bahwa strategi manajemen perguruan tinggi di Indonesia menjadi sangat penting artinya dalam pembangunan pendidikan. Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia baik Perguruan Tinggi Negri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS)  perlu melakukan perencanaan dan manajemen perguruan tinggi yang berkualitas dan komprehensif.Kata Kunci: Manajemen, Mutu, Perguruan Tinggi

PENDAHULUAN

Sesuai dengan sifat pendidikan yang tidak pernah ada batas akhirnya, never ending process, problematika pendidikan nasional Indonesia ternyata tak pernah selesai. Hari demi hari problematika pendidikan nasional Indonesia tidak semakin sederhana, akan tetapi terkesan justru makin kompleks. Problematika yang satu belum terselesaikan dengan tuntas, sudah menyusul problematika lain yang terkadang lebih kompleks.Sederhana, akan tetapi terkesan justru makin kompleks. Problematika yang satu belum terselesaikan dengan tuntas, sudah menyusul problematika lain yang terkadang lebih kompleks.Dalam beberapa tahun terakhir sampai hari ini, kondisi pendidikan nasional Indonesia memang suram. Efisiensi pendidikan tidak maksimal, produktivitas pendidikan kurang optimal, dan mutu pendidikan sangat rendah.Kinerja pendidikan nasional Indonesia sekarang masih sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dicermati dari hasil-hasil pelaksana pendidikan nasional yang masih jauh dari harapan. Relatif rendahnya indeks pembangunan manusia Indonesia, rendahnya daya saing bangsa, makin langkanya keteladanan sosial yang ditunjukkan para pemimpin dan sebagainya, merupakan contoh real dari hasil pelaksanaan pendidikan nasional yang belum memuaskan dalam jangka panjang. Supriyoko (2002) menyatakan bahwa data pembangunan manusia, berdasarkan UNDP (United National Development Programe) tahun 2000 bisa diketahui bahwa Indonesia hanya ada di urutan ke-109 dari 174 negara dan ada di bawah Singapura (24), Brunei Darrussalam (32), Malaysia (61), Thailand (76), dan sebagainya. Disisi lain dari laporan WEF (World Economy Forum) tahun 2000 diketahui bahwa Indonesia hanya berada di rangking ke-44 dari 59 negara dalam hal daya saing ekonomi, dan Indonesia berada di bawah Singapura (2), Malaysia (25), Thailand (31), Filipina (37), dan sebagainya.Apabila kita Identifikasikan hasil-hasil studi yang lain, ternyata pada umumnya diperoleh gambaran yang senada. Di dalam hal ketangguhan daya saing, IIMD (International Institute for Management Development) tahun 2001 menempatkan Indonesia padaposisi ke-49 dari 49 negara. Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan.Pada sisi lainnya, penelitian mengenai pendidikan yang dilakukan oleh PFRC (Political dan Economic Risk Consultancy) tahun 2001 juga hanya menempatkan Indonesia di rangking ke- 12 negara Asia. Tidak ada negara lain yang posisinya dibawah Indonesia. Republik Korea, Jepang, Taiwan, Malaysia, Thailand, dan sebagainya semuanya berada diatas Indonesia hal ini menandakan bahwa kita memang paling rendah kualitas sistem pendidikan nasional Indonesia sampai hari ini masih sangat memprihatinkan memang tidak terbantahkan; untuk itulah berbagai kebijakan telah diformulasikan untuk membuat kinerja pendidikan nasional menjadi lebih baik, meski hasilnya masih jauh dari memuaskan.Sesungguhnya suksesnya program pembangunan suatu bangsa akan amat ditentukan oleh hasil pendidikan tinggi. Lulusan pendidikan tinggi akan menjadi insan pemikir di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan berbagai bidang kesejahteraan masyarakat. Alumni yang dihasilkan oleh pendidikan tinggi di Indonesia akan menjadi pemikir dan elite politik, ekonomi, sosial, budaya, dan penentu masa depan bangsa dan negara Indonesia. Untuk menghasilkan alumni yang bermutu. Pendidikan tinggi memerlukan manajemen bermutu pula. Karena itu dapat diyakini bahwa strategi manajemen pendidikan tinggi di Indonesia menjadi amat penting artinya dalam program pembangunan negara Indonesia. Dalam menghadapi era globalisasi di mana pendidikan tinggi di Indonesia, baik PTN maupun PTS, perlu mengadakan perencanaan manajemen pendidikan tinggi yang seksama, terutama untuk meningkatkan “corporate governance” dalam manajemen pendidikan tinggi. Diperlukan suatu pemikiran yang mendalam dan strategik, baik dalam program akademik maupun dalam program non akademik pemimpin perguruan tinggi di masa kini dan masa mendatang dituntut bukan hanya ahli dalam ilmu pengetahuan yang ditekuninya, tetapi juga seorang manager yang andal dan seorang wiraswastawan yang tangguh dan ulet.H.A.R. Tilar dalam “Manajemen Penyelenggaraan Perguruan Tinggi” menyebutkan bahwa makna manajemen adalah berkenaan dengan hakekat cara-cara pengelolaan suatu lembaga agar lembaga tersebut efisien dan efektif dalam melaksanakan Tridarma Perguruan Tinggi, perguruan tinggi melakukan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat ini dalam istilah manajemen adalah “produk” dari perguruan tinggi. Untuk melaksanakannya diperlukan suatu perencanaan pelaksanaan yang matang dalam manajemen produksi (prodution management) perguruan tinggi. Fungsi-fungsi managemen juga meliputi manajemen sumber daya manusia (human resource development), manajemen keuangan (finance management), dan manajemen pemasaran (marketing management).Untuk memenangkan persaingan yang akan semakin sengit antar perguruan tinggi baik di dalam negeri maupun di dunia internasional, dapat dimengerti apabila perguruan tinggi haruslah menjalankan semua fungsi manajemen perguruan tinggi yang dikelola. Dengan demikian pimpinan perguruan tinggi haruslah menjalankan semua fungsi manajemen perguruan tersebut diatas, yaitu manajemen pendidikan, manajemen sumber daya manusia, manajemen keuangan, dan manajemen pemasaran. Dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen diatas, perguruan tinggi melaksanakan prinsip manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengarahan, dan kontrol.

TUJUAN

Agar Perguruan Tinggi dalam mengelola sumber daya pendidikan secara profesional sesuai dengan visi dan misinya sehingga mampu meningkatkan mutu perguruan tinggi.Agar perguruan tinggi mampu menghasilkan calon-calon pemimpin bangsa yang menjadi masyarakat madani untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyat secara merata.

MASALAHKualitas sumberdaya manusia kita saat ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Bahkan dengan sesama  anggota-anggota ASEAN-pun menilai kualitas SDM kita masuk dalam peringkat yang rendah. Hal ini terjadi sebagai akibat kurang berfungsinya bidang pendidikan secara keseluruhan. Rendahnya kualitas SDM kita berakibat pada rendahnya daya saing bangsa Indonesia di tengah-tengah percaturan global dalam berbagai aspek kehidupan.Fenomena menarik yang perlu dicermati dari lulusan perguruan tinggi di Indonesia adalah ketidakmampuan lulusan itu untuk cepat mengimbangi dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Hal ini berakibat pada tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia dari waktu ke waktu terus meningkat, sebaliknya tenaga-tenaga kerja asing berasal dari perguruan tinggi luar negeri terus berdatangan ke Indonesia untuk memasuki pasar tenaga kerjaa di Indonesia. Hal ini disebabkan karena lemahnya sistem pendidikan dan manajemen disamping terdapatnya kesenjangan persepsi antara pengelola perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusannya dan dunia usaha dan industri sebagai pengguna jasa (lulusan) perguruan tinggi di Indonesia. Peneran TQM (Total Quality Management) pada sistem pendidikan (Educational System) yang sering disebut sebagai Total Quality Management in Education (TQME) belum sepenuhnya diterapkan secara optimal di perguruan tinggi dan apabila TQME ini dikembangkan di perguruan tinggi diharapkan mampu menghilangkan atau mengurangi tingkat kesenjangan yang ada antara perguruan tinggi dan dunia usaha/industri di Indonesia. Bagaimanapun juga penerapan TQME pada perguruan tinggi di Indonesia harus dijalankan atas dasar pengertian dan tanggung jawab bersama secara konsisten untuk mengutamakan efisiensi pendidikan tinggi dan peningkatan kualitas dari proses perguruan tinggi.Salah satu penyebab mengapa bangsa Indonesia tidak mampu keluar dari krisis ekonomi, jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang juga mengalami krisis ekonomi pada kurun waktu yang sama seperti Korea Selatan, Malaysia, Thailand, dan Filipina, adalah karena rendahnya kualitas SDM yang dimiliki terutama dalam aspek manajemen, kompetensi, skill,dan penguasaan IPTEK. Rendahnya SDM ini, seringkali sebagai akibat kurang relevannya program-program pembangunan pendidikan dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam perspekstif kekinian dan masa depan. Semua ini akan menjadi ancaman bagi keberlangsungan bangsa Indonesia, mau tidak mau, suka tidak suka harus bersaing secara terbuka pada tatanan dunia baru di era AFTA, NAFTA, dan APEC, tahun 2020 nanti. Oleh karena itu sistem pendidikan nasional dan manajemen perguruan tinggi perlu diperbaharui agar mampu melahirkan generasi yang memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif yang tinggi pada era persaingan global dengan sistem keterbukaan yang luar biasa ini.Dalam pembaharuan  pendidikan nasional perlu dibangun sistem pendidikan agar responsif terhadap perubahan dan tuntutan zaman mulai dari prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pada pendidikan tinggi sekalipun. Jika demikian halnya,maka pembaharuan pendidikan nasional perlu mencari rumusan, model, sistem dan juga kebijakan yang mampu memberi peluang bagi berseminya motivasi, kreativitas, etos kerja, kejujuran, kedisiplinan, dan toleransi di tengah-tengah pluralitas etnis, agama, sosial, ekonomi dan sebagainya, bagi keberlangsungan bangsa Indonesia dalam jangka panjang.Menurut Gates dan Heminway (1999), millennium baru ditandai dengan era baru yang disebut era baru ini informasi, keputusan, dan tindakan akan berlangsung at the spreed of thought. Hal ini mengarah pada semakin cepatnya perubahan karakteristik bisnis, semakin mudahnya akses informasi, berubahnya gaya hidup dan ekspektasi konsumen terhadap dunia bisnis, serta makin cepatnya perbaikan kualitas dan penyempurnaan proses bisnis. Kesemuanya ini difasilitasi aliran informasi (terutama melalui internet) yang semakin hari semakin canggih.Implikasinya, salah satu tantangan terbesar bagi Perguruan Tinggi dalam rangka menyiapkan lulusannya menghadapi millenium baru adalah membentuk sikap intelektual yang mencakup penguasaan cara belajar untuk belajar (learning to learn) yang ditunjang oleh empat pilar; learning to know, learning to do, learning to life together, dan learning to be (Drucker, 1993). Drost (1998), mendefinisikan seseorang intelektual sebagai “seorang yang berkat pendidikannya dan pengalamannya menjadi seorang yang terbuka kepada seluruh kenyataan, mampu dan sanggup bergaul dengan golongan manapun, bebas tetapi hormat kepada orang berkedudukan tinggi, namun tidak kurang hormat kepada orang biasa”. Dengan kata lain, seorang intelektual adalah orang yang kritis, etis dan bermoral.Dalam konteks pendidikan bisnis, Perguruan Tinggi dituntut menghasilkan alumni masa depan dengan sejumlah karakteristik. Diantaranya kritis dan berprestasi akademik, berjiwa wiraswasta, kreatif dan mandiri (mampu “belajar untuk belajar”), “melek” teknologi dan Internet savvy,  menguasai lebih dari satu bahasa internasional, berkemampuan tinggi dalam berkomunikasi antar pribadi, memiliki pemahaman lintas budaya (cross-cultural understanding), berpotensi sebagai pemimpin, mampu merancang sendiri jalur karir yang diharapkannya (employability), etis (bersumber dari purpose, pride, patience, persistence dan perpective). Dan memiliki standar moral tinggi (Kanungo dan Mendonca, 1996; QuacQuarelli, 1996). Kesemuanya ini berdampak pada semakin mendesaknya kebutuhan untuk melakukan reformasi Perguruan Tinggi, khususnya menyangkut produk (misalnya: kurikulum dan program studi yang ditawarkan), proses (admisi, registrasi, belajar mengajar, student affaif, dan lain-lain), jasa (fasilitas pendukung dan layanan khusus), sumber daya manusia (staf akademik dan non akademik) dan lingkungan (peka terhadap masalah sosial, etika, dan lingkungan hidup). Yang tak kalah penting adalah bahwa Perguruan Tinggi harus bisa memberi kesamaan kesempatan (equality of opportunity) kepada setiap mahasiswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuannya (Drost, 1998). Aspek etika dan moral patut pula dimasukan kedalam kurikulum, baik dalam bentuk mata kuliah tersendiri maupun terintegrasi dalam mata kuliah lainnya, terutama yang dirancang sedemikian rupa sehinggaa bisa menunjang pembentukan mahasiswa pembuat keputusan etis dan berperilaku etis.

ANALISIS MASALAHMemasuki abad 21 ini, dunia pendidikan secara umum dan pendidikan bisnis secara khusus mengalami permasalahan pelik yang menjadi keprihatinan nasional. Saat ini yang namanya produk instan bukan saja di dominasi mi instan, bumbu masak instan dan sejenisnha, namun juga meluas hingga ke “pendidikan instan”. Gelar alademis yang mulai banyak “diagungkan” sebagai bentuk “kebangsawanan” baru mendorong sebagian masyarakat berbondong-bondong mengejar gelar (dan bukan lagi ilmu) demi gengsi atau kelancaran promosi jabatan. Mereka tidak perduli lagi pada proses pendidikan, kompetensi atau kualitas, bahkan tak sedikit diantara mereka yang berani dan bersedia “membeli” gelar.Ironisnya, tidak sedikit “institusi pendidikan” yang merespon atau sengaja “menciptakan” situasi semacam ini dengan dalih memenuhi pasar (market oriented). Mereka tidak malu-malu menawarkan berbagai “paket hemat” berupa gelar S2 maupun S3 (terutama dalam bidang ekonomi dan manajemen) kepada siapa saja. Syaratnya mudah, setiap orang bisa siap diwisuda, asalkan bisa membayar biaya seharga lebih murah dari pada biaya pendidikan di TK (taman kanak-kanak favorit di Jakarta). Hanya dengan menghadiri seminar topik tertentu selama 1 atau beberapa hari, seseorang sudah berhak mengantongi gelar S2 (MBS, M.Sc dan sederajat gelar lainnya). Sedangkan gelar honoris causa (entah untuk prestasi apa) bisa disandang tanpa harus menyusun disertai dan mempertahankannya di depan dewan penguji. Kalaupun ada kewajiban membuat semacam makalah ilmiah, itupun bisa “dibuatkan” dan prestasinya diwakilkan orang lain. Bayangkan beta mudahnya Institusi-institusi semacam ini tidak lagi memperdulikan Status akreditasi, karena yang penting bagi mereka adalah bisnis pendidikan (dan bukan pendidikan bisnis). Hal ini jelas menurunkan kualitas kelulusan yang tidak kompetitif di pasar kerja global dan sekaligus merusak sistem pendidikan nasional yang pada gilirannya akan menghancurkan generasi penerus bangsa. Rendahnya mutu pendidikan Indonesia di urutan 119 di dunia, jauh dibawah kebanyakan Negara berkembang dan berdasarkan survey ASIAWEEK, perguruan tinggi kebanggaan nasional kita belum menduduki peringkat 50 dari 104 perguruan tinggi sejenis di Asia Pacific. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena usaha selama ini cenderung tambal sulam (insidental) tidak menyentuh akar masalah yang tepat (Suyanto, 2002).Sementara itu, perguruan tinggi (PT) di Indonesia yang selama ini dikenal sebagai perguruan tinggi (PT) ternama di Indonesia, ternyata hanya jago kandang (Sumarwoto, 2000). Ini ditunjukkan dengan hasil riset terbaru mingguan ASIAWEEK yang hanya menempatkan UI di urutan 61, UGM 68, UNdip 73, dan Unair 75 dari 77 universitas multidisiplin di Asia, Australia dan Selandia Baru pada tahun 2000. Sedangkan untuk kategori science and technology school, ITB menduduki peringkat 21 dari 39 universitas. Posisi ini tidak terlalu jauh berbeda jika dibandingkan dengan peringkat tahun 1999 yang menempatkan UI di urutan 70, UGM 67, Undip 71, Unair 79 dan ITB 15. Adapun urutan yang dipakai dalam peringkat versi ASIAWEEK ini meliputi reputasi akademik, selektivitas penerimaan mahasiswa, sumber daya fakultas, riset dan sumber daya finansial.Jika Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama saja kondisinya seperti itu, bagaimana dengan perguruan tinggi Swasta (PTS). Menurut Supriyoko (2000), kendati Depdiknas mengkampanyekan slogan “PTS adalah mitra PTN” dalam kenyataannya PTS di Indonesia tetap saja diperlukan tidak adil dan cenderung dimarginmalisasikan hingga saat ini. Akibatnya, tidaklah mengherankan jika secara umum kualitas perguruan tinggi di Indonesia masih jauh dari harapan (Sumarwoto, 2000). Kondisi-kondisi di atas menurut setiap Perguruan Tinggi di Indonesia untuk merefleksikan kembali komitmennya pada visi dan misi utamanya. Hal ini menyangkut sejauhmana Perguruan Tinggi bersangkutan tetap setia dan sungguh-sungguh berjuang mewujudkan idealismenya di tengah budaya pendidikan instan yang tengah berkembang. Persoalan ini bertambah komplek seiring dengan arus globalisasi dan liberalisasi yang ditandai pula dengan perkembangan teknologi informasi menuju era digital dan ancaman gelombang “serbuan” perguruang tinggi asing (PTA), baik berupa kampus konvensional kampus on-line.Salah satu ancaman yang bisa digunakan untuk merespon berbagai tantangan pendidikan bisnis di era millenium baru yaitu penerapan total Quality Management in Education (TQME), yang bertujuan memaksimumkan daya saing organisasi melalui penyempurnaan secara berkesinambungan atas produk, jasa, sumber daya manusia, proses, dan lingkungan organisasi (Goetsch dan Davis, 1994). Sebagai ilustrasi sukses implementasi TQM di dunia bisnis (seperti Xerox, IBM, Harley Davidson, Ford, Toyota, dan Hewlett-Packard) mengilhami organisasi-organisasi lainnya (termasuk PT) untuk mengadopsinya, kendati ada beberapa pakar yang meragukan kelayakan dan kesesuaian  konsep TQM dengan karakteristika perguruan tinggi (Taylor dan Hill, 1993; McCulloch, 1993, Holmes dan Mc.Elwee, 1995. Data hang dikumpulkan Quality Progress menunjukkan bahwa pada tahun 1992 saja sudah ada 220 institusi PT Amerika Serikat yang menerapkan TQM (Lewis dan Smith, 1994). Termasuk didalamnya Harvard University, Oregon State University, University of Pennsylvania, University of Chicago, University of Texas – Austin, dan lain-lain. Salah satu konsep yang diharapkan untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi yaitu: melalui penerapan TQME dalam sistem pendidikan tinggi yang dijalankan secara konsisten melalui peningkatan proses pendidikan terus menerus (Continous Educational Process Improment), maka perguruan tinggi di Indonesia diharapkan akan mampu memenangkan persaingan global yang amat sangat kompetitif dan memperoleh manfaat (ekonomis maupun non ekonomis) yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan perguruan tinggi dan peningkatan kesejahtraan personil yang terlibat di perguruan tinggi.Secara garis besar, terdapat enam tantangan sekaligus harapan pokok yang perlu dikaji dan dikelola secara strategik dalam rangka menerapkan konsep TQM dalam dunia Perguruan Tinggi, yakni berkenaan dengan dimensi kualitas, fokus pada pelanggaran, kepemimpinan, perbaikan berkesinambungan, manajemen sumber daya manusia, dan manajemen berdasarkan fakta (Tjiptono, 2000).

ALTERNATIF SOLUSITjiptono dan Diana (2000) antara lain menyatakan bahwa secara garis besar terdapat enam tantangan sekaligus harapan pokok yang perlu dikaji dan dikelola secara strategik dalam rangka penyelesaian (solusi) permasalahan dalam menerangkan konsep TQM pada dunia Perguruan Tinggi yaitu sebagai berikut :
Dimensi KualitasSebagai salah satu bentuk jasa yang melibatkan tingkat interaksi yang tinggi antara penyedia dan pemakai jasa, ada lima dimensi pokok yang menentukan kualitas perguruan tinggi (berdasarkan derajad kepentingan relatifnya di mata pelanggan); Keadaan (reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera/tepat waktu, akurat dan memuaskan. Dimensi ini menyangkut Core service sebuah perguruan tinggi. Contohnya meliputi kurikulum dan penawaran mata kuliah yang benar-benar sesuai dengan tuntutan ketrampilan, profesi, dan dunia kerja; penilaian hasil studi yang obyektif, fair, dan tepat waktu, dan seterusnya.Daya tangkap (responsiveness), yaitu kesediaan para staf akademik dan non akademik untuk membantu dan memberikan layanan dengan tanggap kepada para pelanggan internal maupun PenyempurnaanKualitasBerkesinambunganInputProsesTransformasiAssessmentOutputeksternal. Contohnya antara lain: para pejabat struktural (rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, ketua jurusan/program studi beserta sekretariatnya, dan pejabat lainya) mudah ditemukan untuk dimintai bantuan; dosen gambang ditemui mahasiswa untuk keperluan konsultasi; proses belajar mengajar berlangsung interaktif dan variatif; serta memungkinkah para mahasiswa untuk mengembangkan seluruh kapasitas, kreativitas, dan kapabilitasnya; fasilitas layanan yang ada (seperti perpustakaan, laboratorium, komputer dan internet, ruang dan peralatan olah raga, dan lain-lain) mudah diakses oleh setiap warga kampus; dan sebagainya.Jaminan (assurance), mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan, respek terhadap setiap orang dan sifat terpercaya yang dimiliki para staf. Sebagai contoh, para dosen mengampu mata kuliah yang benar-benar sesuai dengan bidang keahliah atau pengalamannya; dosen selalu berusaha menambah wawasannya dengan membaca, menghadiri seminar, mengikuti pelatihan, menjalani studi lanjut, dan lain-lain, sikap dan perilaku seluruh jajaran organisasi mencerminkan profesionalisme dan kesopanan yang diatur dalam suatu standar atau kode etik tersendiri, PT menjamin kesamaan hak dan kewajiban setiap mahasiswa maupun staf; dan seterusnya.Empati, meliputi kemudahan dalam berkomunikasi, perhatian pribadi, dan pemahaman atas kebutuhan spesifik individual misalnya; dosen berusaha mengenal para mahasiswanya, dosen pembimbing akademik sungguh-sungguh berperan sebagai supervisor dan bukan sekedar “editor bahasa”, setiap dosen mudah dihubungi, baik di ruang kerja, via telepon, email atau alternatif lainnya; dan sebagainya.Bukti fisik (tangibels), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, karyawan/ dosen, dan sarana komunikasi. Dimensi ini sangat beraneka ragam, misalnya menyangkut ketersediaan, keamanan dan kecanggihan kampus, fasilitas komputer dan internet, perpustakaan, ruang kuliah, ruang seminar, ruang dosen, media perkuliahan, toko buku, kantin, pusat bimbingan karir, layanan kesehatan, tempat ibadah, tempat parkir, dan seterusnya.
2.  Fokus Pada PelangganKeputusan pelanggan merupakan faktor esensial dalam TQM, karena itu PT harus mengidentifikasikan para pelanggan dan kebutuhan mereka secara cermat, serta berusaha memuaskannya. Menurut Ivancevich, D.M dan Ivancevich, S.H (1992), langkah pertama dalam menerapkan TQM adalah memandang mahasiswa sebagai pelanggan yang harus dilayani. Pandangan ini dikenal secara luar, namun tidak disepakati secara universal. Salah satu pihak yang mengkritik pandangan ini adalah Wambsgannss dan Kennett (1995). Kedua pakar ini beragumen bahwa sekalipun mahasiswa merupakan pihak yang “membayar SPP” dan menerima jasa yang ditawarkan (pendidikan), mereka bukanlah fokus utama perguruan tinggi sebaliknya, justru para pemakai akhir (end user) atau fokus employers yang harus dijadikan sasaran utama.Pandangan yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Lewis dan Smith (1994), keduanya memaparkan kerangkaa identifikasi pelanggan yang ditinjau dari tiga perspektif, yaitu pelanggan internal (akademik dan administratif ), pelanggan eksternal langsung dan pelanggan eksternal tidak langsung. Setiap tipe pelanggan memiliki setiap kebutuhannua masing-masing dengan prioritas perhatian didasarkan pada urutan. Jadi, pelanggan Perguruan Tinggi bukan terpaku pada mahasiswa. Implikasi strategiknya adalah bahwa kebutuhan fisik semua tipe pelanggan ini harus diidentifikasi dan dipertimbangkan secara cermat dalam membuat kebijakan strategis dalam manajemen perguruan misalnya salam menyangkut perancangan kurikulum, jaringan alumni, kemitraan dengan stakeholder (Perguruan Tinggi lain di dalam maupun di luar negeri; dunia bisnis seperti koperasi, usaha kecil dan menengah, maupun perusahaan besar; institusi pemerintah). Hubungan timbal balik dengan para donatur, sistem informasi akademik, proses rekrutmen dan seleksi hingga pengembangan staf akademik dan non akademik, dan sebagainya.
3.  KepemimpinanKesadaran akan kualitas dalam organisasi tergantung pada banyak faktor intangibles, terutama sikap manajemen puncak (rektorat) terhadap kualitas. Dalam konteks TQM, pemimpin perlu memiliki karakteristik pribadi yang mencakup: dorongan (drive), motivasi untuk memimpin, kejujuran dan integritas, kepercayaan diri, inisiatif, kreatifitas/originalitas, adaptabilitas/fleksibiltas, kemampuan kognitif pengetahuan bisnis dan kharisma. Kualitas manajemen puncak seperti itu dapat memberikan inspirasi pada semua jajaran institusi Perguruan Tinggi (terutama dalam level manajerial atau pejabat struktural) agar memperagakan kepemimpinan yang sama yang diperlukan untuk mengembangkan budaya TQM. Selain itu gaya kepemimpinan transformasional, visi dan misi Perguruan Tinggi dirumuskan, diartikulasi dan dikomunikasikan ke seluruh jajaran organisasi melalui tiga komponen penting (Handoko dan Ciptono, 1996); (1)  penyampaian inspirasi untuk mengomunikasikan harapan tinggi, memfokuskan upaya, dan mengekspresikan tujuan dengan cara-cara sederhana: (2) Stimulus intelektual untuk mempromosikan intelegensi, rasionalitas, dan pemecahan masalah secara ilmiah; dan (3)  pemberian konsiderasi yang bersifa individual untuk memberikan perhatian personal dan memberdayakan karyawan.
4.  Perbaikan BerkesinambunganPerbaikan berkesinambungan berkaitan dengan kominmen (continous quality improvement atau CQI) dan proses (continuous process improment). Komitmen terhadap kualitas dimulai dengan pernyataan dedikasi pada misi bersama, serta pemberdayaan semua partisipan untuk secara incremental mewujudkan visi dan misi tersebut (Lewis dan Smith, 1994). Perbaikan berkesinambungan tergantung pada dua unsur, yaitu mempelajari proses, alat, dan ketrampilan yang tepat dan menerapkan keterampilan-keterampilan baru tersebut pada small achievable project. Proses perbaikan berkesinambungan dapat dilakukan berdasarkan siklus PDCA (Plan, Do Check, Action). Siklus ini merupakan siklus perbaikan yang tidak pernah berakhir dan berlaku pada semua fase organisasi Perguruan Tinggi, misalnya admisi, registrasi, student affair, pemrograman akademik, pemeliharaan dan lain-lain.Upaya perbaikan kualitas secara berkesinambungan dan Perguruan Tinggi harus menggunakan pendekatan sistem terbukan atas fungsi inti Perguruan Tinggi – student learning. Dalam gambar ditunjukkan tiga pendekatan  yang digunakan untuk menjamin kualitas Perguruan Tinggi, yaitu pendekatan akreditasi, pendekatan autocome assessment, dan pendekatan system terbuka (Lewis dan Smith, 1994). Pendekatan akreditasi berfokus pada input institusi, seperti prestasi mahasiswa, faculty degree, fasilitas, dan sumber daya fisik.Asumsi dasar pendekatan ini adalah bila tersedia input berkualitas tinggi, maka akan diperoleh hasil output yang juga berkualitas tinggi. Pendekatan ini memberikan data mengenai apa yang masuk dalam sistem, tetapi hanya sangat sedikit data mengenai apa yang terjadi dalam sistem dan apa yang dihasilkan dari sistem bbersangkutan.Sementara itu, pendekatan outcome assessment, menekankan pentingnya evaluasi output Perguruan Tinggi, seperti prestasi mahasiswa, graduation, dan pekerjaan/jabatan. Sekalipun pendekatan ini memberikan kontribusi berharga bagi institusi, mahasiswa dan publiknya, pemahaman atas output pendidikan semata tidak memberikan basis untuk menentukan masalah-masalah dalam proses belajar. Baik pendekatan akreditasi maupun pendekatan outcome assessment, keduanya lebih merupakan pendekatan “terpotong-potong” dalam upaya menjamin kualitas Perguruan Tinggi.Oleh sebab itu, dibutuhkan pendekatan sistem terbuka yang merupakan sistem jaminan kualitas terintegrasi bagi Perguruan Tinggi.Pendekatan ini menekankan kebutuhan akan kualitas harus difokuskan pada ketiga tahap tersebut dengan mempertimbangkan pula tantangan perlunya pemenuhan standar kualitas Perguruan Tinggi, baik secara nasional maupun internasional. Hal lain yang penting pula dilakukan agar Perguruan Tinggi tidak cepat berpuas diri adalah melakukan patok duga (benchmarking) dengan Perguruan Tinggi lain yang berkelas global. Hasil pokok duga biasa dijadikan masukan untuk melakukan pembenahan dan penyempurnaan kualitas selanjutnya secara berkesinambungan.
5.  Manajemen Sumber Daya ManusiaSumber daya manusia merupakan aset organisasi yang paling vital dan sekaligus pelanggan internal yang menentukan kualitas akhir jasa dan organisasi perguruan tinggi. Oleh sebab itu, sukses tidaknya implementasi TQM sangat ditentukan oleh kesiapan, kesediaan, dan kompetensi sumber daya manusia dalam Perguruan Tinggi bersangkutan untuk secara sungguh-sungguh merealisasikannya. Penerapan konsep TQM menuntut pergerakan paradigma dalam praktek manajemen sumber daya manusia, dari yang semula 2C (Command and Control ) menjadi 3C (Employe Commitment, Cooperation, dan Communication).Salah satu komponen Sumber Daya perguruan tinggi yang paling sering dikeluhkan kualitasnya adalah para dosen. Selama ini banyak pihak yang menyoroti rendahnya profesionalisme dosen di Indonesia, misalnya dalam penelitian dosen yang kurang bermutu, hasil temuan yang jarang dipublikasikan (apalagi disitasi ilmuwan internasional), desain atau metodenya sangat lemah, dan sebagainya. Belum lagi, masih banyak dijumpai dosen yang menjadikan profesi pendidikannya sebagai “sampingan”, tidak bersedia memperbaharui pengetahuan dan wawasannya, dan seterusnya. Namun demikian,  menurut Khomsan (2000), situasi ini bukan semata-mata kesalahan para dosen, tetapi juga dikarenakan dana penelitian yang sangat minim dan kebanyakan dosen tidak memperoleh insentif secara profesional pada gilirannya, kedua hal ini terkait erat dengan rendahnya anggaran pendidikan yang dimiliki untuk membangun universitas bermutu. Oleh sebab itu, strategi manajemen sumber daya manusia dalam rangka memfasilitasi penerapan TQM harus mengintegrasikan visi, misi dan nilai-nilai yang dianut (seperti standar moral dan etika) ke dalam seluruh aspek, sepertinsistem rekrutmen dan seleksi karyawan, orientasi karyawan, pelatihan dan pengembangan, sistem kompensasi dan pengakuan prestasi, promosi jabatan, program partisipasi karyawan dan seterusnya.
6.  Manajemen Berdasarkan FaktaPengambilan keputusan harus didasarkan pada fakta nyata tentang kualitas yang didapatkan dari beragam sumber di seluruh jajaran organisasi. Jadi, keputusan tidak didasarkan atas intuisi, praduga, politik organisasi, maupun perasaan “like and dislike”. Berbagai alat telah dirancang dan dikembangkan jntuk mendukung pengumpulan dan analisis  data, serta pengambilan keputusan berdasarkan fakta, diantaranya adalah 7 alat statistik utama dalam Statistical Process Control  (SPC):  diagram sebab akibat, check list, diagram pareto, Run Chart, Control chart, Histogram, dan Scattet Diagram.

KESIMPULAN DAN SARANKesimpulanRelatif rendahnya kualitas perguruan tinggi di Indonesia antara lain disebabkan pesatnya perkembangan teknologi informasi yang berpengaruh pada paradigma pendidikan di masa depan dan meningkatnya intensitas kompetisi global antar institusi pendidikan.Sukses program pembangunan suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya sistem pendidikan nasional dan manajemen serta anggaran pendidikan yang layak dan ini akan berdampak pada hasil (lulusan) perguruan tinggi. Lulusan yang berkualitas tinggi akan menjadi insan pemikir (thinker) di bidang ekonomi, politik, sosial, sosial, budaya dan berbagai bidang kesejahteraan masyarakat dan penentu masa depan bangsa dan negara Indonesia.Untuk menghasilkan lulusan yang bermutu, perguruan tinggij tidak terlepas dari manajemen yang bermutu pula. Karena itu dapat dipastikan bahwa strategi manajemen perguruan tinggi di Indonesia menjadi sangat penting artinya dalam program pembangunan pendidikan.Menghadapi era globalisasi, dimana perhuruan tinggi asing dan bebas memasuki pasaran Indonesia baik PTN maupun PTS perlu pmelakukan perancanaan manajemen perguruan tinggi yang seksama terutama dalam peningkatan mutu perguruan tinggi dan untuk ini diperlukan pemikiran yang komprehensif dan strategis dalam program akademik maupun no akademik.

SARANAnggaran pendidikan nasional harus dirasionalisasikan dari + 4.8 % atau + Rp. 11,5 Triliyun menjadi + 20%  dari APBN dan pemerintah dalam menyusun program pembangunan pendidikan harus proporsional, karen pendidikan merupakan investasi masa depan yang mempunyai nilai bagi kelangsungan bangsa dan negara Indonesia dalam percaturan dunia internasional.Perguruan Tinggi sudah harus memfokuskan pada kepuasan dan kebahagiaan pelanggan yaitu mahasiswa, orang tua mahasiswa, para professor, dosen dan karyawan untuk mencapai tujuan utama meningkatkan mutu perguruan tinggi agar menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai dengan perkembangan dan permintaan pasar kerja global.Perlu dilakukan reformasi dalam perbaikan/penyempurnaan kualitas perguruan tinggi yang merupakan agenda mendesak yang harus segera dilakukan yaitu salah satunya adalah rancangan yang dipakai adalah TQM yang menekankan pada penyempurnaan kualitas yang berkesinambungan (Continuous Quality Improvement) yang menyangkut proses setiap pekerjaan dan setiap orang, dengan cara seperti ini diharapkan perguruan tinggi akan mampu menghasilkan lulusan yang kritis, berinisiatif, memiliki etos kerja, proaktif, jujur, etis, bermoral (berakhlak) dan berjiwa sosial.Pimpinan perguruan tinggi di era global perlu menerapkan prinsip 4-P, yaitu produk, price, place, dan promotion agar memenangkan persaingan yang semakin tajam.

KEPUSTAKAANDrost, J.l.G.M. 1998. Sekolah: Mengajar atau mendidik? Yogyakarta: Kasnisius dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.Drucker, P.F. 1993. Post-Capitalist Society. Oxford: Butterworth Heinemenn Ltd.Gaspersz, V. 2002. Total Quality Management. Management Bisnis Total. Jakarta: Gramedia Pustaka IndonesiaGoetsch, D.L dan Davis, S. 1994. Introduction to Total Quality: Quality, Productivity, Competitiveness. New York: Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Intenasional Inc.Handoko, H dan Tjiptono, F 1996. “Kepemimpinan Transformasional dan Pemberdayaan.” Journal Ekonomi dan Bisnis Indonesia.Holmes, G dan Mc. elwee, G. 1995. “Total Quality Management in Higer Education: How to Approach Human Resource Management”,  TQM Magazine.Ivancevich, D.M dan Ivancevich, S.H. 1992. TQM in Class Room, Management Accounting.Kamugo, R. dan Mendonca, M. 1996. “What Leaderst Cannot Do Without,” World Exsecutive’s DigestKhomsan, A. 2000. “Peringkat Perguruan Tinggi Kita: Tanggapan Atas Tulisan Prof. Otto Sumarwoto.” Kompas, Jakarta.Lewis, R.G. Dan Smith, D.H. 1994. Total Quality in Higher Education. Florida: Delroy Beach.Mc, Culloch, M. 1993. Total Quality Management: Its Relevance for Higher Education, Quality Assurance in Education.Quacquarelli, N. 1996. “Wanted: Blue – Chip MBAS,” World Exsecutive’s Digest.Sumarwoto, O. 2000. “Potret Buruk  Perguruan Tinggi Kita”. Kompas, Jakarta.Supriyoko, K. 2002. Konsep Broad Base Education Dalam akerangka Mengembangkan Keterampilan Hidup Masyarakat. Pendidikan Untuk Masyarakat Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.Taylor, A. W dan Hill, F.M.1993. “Issues for Implementing TQM in Further and Higher Education: The Moderating Influence of Contextual Variables.” Quality Assruance in Education.Tjiptono, F. 2000. Strategi Memanfaatkan Internet untuk Keperluan Riset, Model Pelatihan Pemanfaatan Internet Untuk Riset. Yogyakarta: Magister Manajemen UAJY. Tjiptono, F. dan Diana, A. 2000. Total Quality Management. yogyakarta: Andi Yogyakarta.

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: